Langsung ke konten utama

Roma 8:12-17



“MENJADI PEWARIS JANJI ALLAH”
Jika kita membaca Roma pasal 8 ini, kita akan menemukan bahwa rasul Paulus membedakan  2 prinsip hidup yang sangat berbeda dan saling bertentangan. Prinsip hidup yang pertama disebutnya dengan ”hidup menurut daging” dan yang kedua disebut dengan ”hidup menurut Roh”.
Pengertian rasul Paulus mengenai ”hidup menurut daging” lebih ditujukan untuk menggambarkan suatu pola hidup yang memiliki tabiat yang sangat mudah/rentan terhadap keinginan dan dorongan melakukan dosa. Jadi orang yang hidup menurut daging pada hakikatnya orang yang lebih mengikuti kecenderungan hawa nafsunya untuk jatuh di dalam perbuatan atau tindakan yang melawan Allah. Itu sebabnya di Roma 8:6 rasul Paulus berkata, ”Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera”.
Di dalam Efesus 4:21-25, Paulus mempergunakan istilah  “menanggalkan  manusia lama dan mengenakan manusia baru” untuk menerangkan perbedaan antara hidup menurut daging dan hidup menurut roh tersebut.

Penjelasan Nas- Aplikasi
1.    Hidup menurut daging akan berakhir kepada kematian kekal, sebaliknya hidup menurut Roh akan mengalami hidup yang kekal (ay.12-13)
Kita dapat melihat bagaimana Paulus menghimbau supaya kita hidup tidak secara daging. Karena kehidupan secara daging adalah kehidupan yang rendah dan egois. Kehidupan yang hanya mementingkan kesenangan diri sendiri. Orang-orang yang menjalani kehidupan seperti ini, kelak akan mengalami penyesalan. Sebagaimana yang kita lihat dalam kehidupan Esau. Demi memuaskan kesenangan sesaat, ia menjual hak kesulungannya dengan menukarnya dengan semangkuk bubur.  Saat ini, kita juga menemukan banyak orang seperti Esau. Karena tergoda oleh kesenangan duniawi, akhirnya rela meninggalkan Yesus dan hidup secara kedagingan.
2.    Semua orang yang dipimpin oleh Roh Allah adalah  Anak-anak Allah  (ay.14-16)
Dalam menjelaskan keberadaan seseorang yang telah mengalami penebusan dari Tuhan. Paulus mempergunakan istilah antara status anak dengan hamba. Sebagai anak kita mengalami kemerdekaan. Sedangkan sebagai hamba kita terikat kepada seseorang. Didalam anugerah Allah, seseorang tersebut diangkat statusnya menjadi anak, tidak lagi hamba. Ia menjadi memiliki status yang istimewa. Rasul Paulus menjelaskan ini dengan mempergunakan istilah “imamat yang rajani” / malim hatopan (1 Petrus 2:9). Artinya, sebagai seseorang yang telah ditebus Allah, semua orang percaya memiliki status yang baru. Memiliki kehidupan yang baru.
Dahulu, ketika para penginjil dari Eropa datang ke tanah Batak, pada saat itu di tanah Batak berlangsung sistim perbudakan. Banyak orang Batak yang diperbudak dan ditawan oleh sesamanya orang Batak. Orang yang diperbudak tersebut harus melayani kepentingan tuannya, yang memperbudak dirinya. Mereka diperbudak kebanyakan karena kalah berjudi atau kalah dalam peperangan.  Para penginjil itu merasa kasihan melihat orang yang diperbudak tersebut. Lalu merekapun banyak menebus orang-orang yang diperbudak tersebut dengan sejumlah uang. Setelah ditebus, status mereka berubah. Tidak lagi budak melainkan menjadi orang merdeka.
Kita pun demikian, kita ditebus bukan dengan sejumlah uang, tetapi dengan darah Yesus Kristus. Selain itu, kita juga dianugerahi Roh Allah, yang membuat kita dapat berkata: “Ya Abba, ya Bapa!”.Oleh karena itu, marilah kita menghargai penebusan Kristus tersebut dengan hidup tidak lagi seperti seseorang yang diperhamba oleh Iblis.
3.    Sebagai anak Allah, kita menjadi orang yang disebut sebagai ahli waris, yaitu pewaris akan janji-janji Allah (ay.17).
Sebagai anak-anak Allah, kita mengetahui bahwa kita adalah ahli waris Allah, yaitu orang-orang yang berhak menerima segala janji Allah. Janji apa sajakah itu? Yaitu suatu hari kelak kita akan menikmati kemuliaan bersama dengan Kristus di surga, walaupun saat di dunia yang fana ini kita masih mengalami berbagai penderitaan (ayat 19-24). Didalam berhadapan dengan penderitaan itu, kita dikuatkan melalui memegang janji Allah di dalam firmanNya. Firman Tuhan tersebut membuat hati kita teguh dan tidak mudah terombang-ambing.

Dengan mengingat janjinNya, kita dikuatkan dan dimampukan untuk menjalani kehidupan ini. Walaupun kita masih berada dalam kehidupan yang fana ini, namun kita memiliki keyakinan akan janji Allah bahwa suatu hari kelak, kita akan meninggalkan dunia ini.  Dunia ini tidak menjadi tujuan hidup kita. Namun, hidup dalam dunia inilah kita membuktikan bahwa kita adalah anak-anak Allah yang mewarisi janji Allah akan kehidupan kekal tersebut.